Bacaan Terbaru

Deskriminatif Anak Penderita HIV-Aids (Hentikan)


Bertepatan pada Hari AIDS Sedunia tanggal 1 Desember 2016 masyarakat diajak agar tidak melakukan stigmatisasi (memberi cap buruk) dan diskriminasi (mengasingkan, mengucilkan, membeda-bedakan) terhadap orang-orang yang hidup dengan AIDS (Odha) karena akan memperburuk epidemi HIV/AIDS. Anak penderita HIV/AIDS adalah kelompok yang paling sering mendapat perlakuan diskriminatif di Indonesia, sebagian besar malah tidak bersekolah atau dikucilkan masyarakat. Yang lebih miris adalah ketika masyarakat atau sekolah dimana anak-anak itu bersekolah tahu tentang kondisi medis mereka, anak-anak itu dijauhi dan tak jarang dikeluarkan dari sekolah.

Anak terdampak HIV/AIDS hanya merupakan korban turunan dari orangtuanya yang mengidap atau positif terkena HIV/AIDS, mereka seharusnya mendapatkan motivasi dari lingkungannya. Umumnya masyarakat masih mengira jika anaknya bergaul dengan anak terdampak HIV/AIDS bisa tertular. Padahal penularan bisa terjadi antara lain melalui penggunaan jarum suntik, serta berhubungan seks. Diskriminasi terhadap anak dengan HIV-AIDS atau mempunyai orang tua berstatus HIV positif telah menghambat pendidikan dan anak untuk bertumbuh kembang.


Perlakuan diskriminatif itu niscaya justru membuat anak-anak dengan HIV dan keluarganya kian sulit mendapatkan hak-hak mereka sebagai anak-anak. Mereka bahkan bisa membahayakan orang-orang di sekitarnya tanpa disadari akibat trauma atas perlakuan yang didapat. Ada beberapa contoh kasus lain dari penderita HIV-AIDS. Misalnya, seorang ibu yang diasingkan oleh anak-anaknya, di PHK dari perusahaan. Tak hanya para ODHA yang mengalami stigma dan diskriminasi, tapi juga anak-anak mereka. Ada anak seorang ODHA, tiga kali pindah-pindah sekolah. Hal ini disebabkan sebagian orangtua murid yang lain keberatan dengan keberadaan anak seorang pengidap HIV ada di sekolah tersebut. Mereka takut anak-anak mereka tertular. Padahal anak dari ODHA tersebut hasil tesnya negatif HIV.

“Miris sekali. Apa salah dia?”

Sebenarnya HIV-AIDS tidaklah seburuk yang dibayangkan kebanyakan orang, perlu pemahaman yang benar tentang HIV-AIDS meliputi  pengertian, penularan  (sumber dan cara penularan), pencegahan, tanda dan gejala serta penanganannya. HIV-AIDS tidak menular saat bersalaman, berciuman, berenang bersama di kolam renang, terpapar batuk atau bersin, berbagi makanan atau menggunakan alat makan bersama dan menggunakan toilet yang dipakai bersama. “Malahan, virus Hepatitis atau kuman TBC yang lebih gampang menularkan, jadi terasa tidak adil jika penderita HIV-AIDS mengalami stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Mereka (ODHA) harus mempunyai hak dan kedudukan yang sama di dalam masyarakat”.


Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pada gilirannya akan mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi ODHA dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi HIV-AIDS. Mereka menghambat usaha pencegahan dan perawatan dengan memelihara kebisuan dan penyangkalan tentang HIV-AIDS seperti juga mendorong keterpinggiran ODHA dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV. Mengingat HIV-AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, dan takut terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan masyarakat.

Stigma dan diskriminasi dapat diatasi dengan cara intervensi berbasis masyarakat, termasuk keluarga, tempat kerja, layanan kesehatan, agama, dan media. Intervensi diarahkan untuk membatasi sikap negatif sebagai efek samping dari tujuan lain melalui pendekatan yang inovatif. 


Salah satu upaya dalam menanggulangi adanya diskriminasi terhadap ODHA adalah meningkatkan pemahaman tentang HIV-AIDS di masyarakat, khususnya di kalangan petugas kesehatan, dan terutama pelatihan tentang perawatan. Ini pada pokok menekankan pentingnya kewaspadaan universal, agar tidak ada kebingungan. 

Tambahannya, lebih banyak konselor harus dilatih agar pelaksanaan tes dan konseling HIV dapat berjalan sesuai prosedur. Pemahaman tentang HIV-AIDS pada gilirannya akan disusul dengan perubahan sikap dan cara pandang masyarakat terhadap HIV-AIDS dan ODHA, sehingga akhirnya dapat mengurangi tindakan diskriminasi terhadap ODHA.

Semakin banyak masyarakat yang sadar dan peduli akan HIV-AIDS maka AIDS akan bisa dihentikan melalui penghapusan stigma dan menghentikan diskriminasi dengan memulainya dari diri kita sendiri, mari beri ODHA dukungan dan harapan. Layani mereka tanpa diskriminasi. ODHA tidak ada bedanya dengan kita yang tidak terjangkit HIV. Mereka mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama.

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan untuk anda tentang Deskriminasi Terhadap Anak Penderita HIV, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua.

Sarkomet berkata “Salam Satu Jiwa”.

Tidak ada komentar