Bacaan Terbaru

Musik Keroncong Musik Perjuangan Yang Tersisihkan

Kendati Keroncong bukanlah asli berasal dari Indonesia, namun musik yang berakar dari bangsa Portugis ini memiliki nilai history tersendiri yakni dimasa-masa perjuangan dahulu musik bergenre keroncong ini berkembang sangat pesat dan mampu melahirkan lagu-lagu yang kental semangat nasionalisme.
Seiring berjalannya waktu eksistensi musik keroncong di Indonesia perlahan-lahan tergerus oleh perubahan zaman. Kiblat bermusik masyarakat Indonesia berubah, masyarakat Indonesia terlebih anak muda jaman sekarang lebih menggandrungi aliran-aliran musik modern seperti pop, rock, blues, hip-hop dan aliran musik modern lainnya (dangdut masuk nominasi juga ya). Bahkan lebih miris, musik keroncong bisa dikatakan mati suri karena tak lagi memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia.

Menurut sejarah, Keroncong punya makna tersendiri bagi rakyat Indonesia di masa-masa awal perjuangan. Meski keroncong memiliki irama yang halus dan lambat namun jenis musik ini mampu menghipnotis rakyat Indonesia untuk bangkit dan bergerak melawan imperialis. Sehingga musik keroncong bisa dikatakan mampu menyisipkan unsur-unsur kepahlawanan dan memupuk rasa nasionalisme kepada jiwa anak muda pada masa itu.

Sebab itu, keroncong tidak bisa dipisahkan dari bagian sejarah Tanah Air. Pasalnya, lagu-Iagu yang dihasilkan mampu memberikan semangat perjuangan dalam usaha merebut kemerdekaan. Hal itu tercermin dari karya-karya yang dicipta oleh maestro keroncong seperti Ismail Marzuki dan Kusbini (Pencipta lagu Bagimu Negeri) yang dinilai berhasil menciptakan lagu-Iagu fenomenal yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air.

Keroncong memiliki kaitan sejarah dengan genre musik Portugis yang dikenal dengan fado. Awal kehadiran musik ini di Nusantara sejak akhir abad ke-16. Ketika itu fado banyak dinyanyikan budak dan opsir Portugis dari daratan India dan Maluku. Bentuk awal jenis musik ini dinamakan moresco, yang diiringi lantunan bunyi dawai. Dalam perkembangannya jenis musik ini mendapat pengaruh dari berbagai unsur musik tradisional-lokal, seperti penggunaan seruling dan beberapa komponen gamelan.

Kombinasi musik Portugis-Indonesia itu disukai warga pribumi di abad ke-19. Tak pelak, bila keroncong menjadi musik yang sangat populer bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini mampu bertahan hingga pemerintahan Orde lama, sekitar tahun 1960-an.


Sayangnya, keroncong mulai meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya pada 1961 hingga sekarang). Meski begitu kehadiran musik keroncong di Indonesia sampai saat ini tidak sepenuhnya punah. la masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia.

Terkikisnya minat publik terhadap keroncong di tengah belantika musik dalam negeri salah satunya diakibatkan tidak mampunya mengikuti perkembangan zaman. Keroncong dinilai lamban dan tidak mampu menyesuaikan laju musik modern yang terus berubah. Berbeda dengan musik kontemporer yang terlihat lebih energik dan kreatif, sehingga kehadirannya memperoleh respon cepat dari masyarakat Indonesia. Harmunah dalam bukunya Musik Keroncong menjelaskan bahwa tersisihnya musik keroncong karena jenis musik ini cenderung lamban dan malas. Sehingga masyarakat enggan untuk menjadikan musik ini sebagai hiburan. Meski keroncong memiliki akar sejarah yang kuat, namun saat ini jarang sekali masyarakat yang mengenalinya.

Musik keroncong merupakan salah satu cabang seni pertunjukan yang hidup dan berkembang di bumi nusantara. Di era kejayaannya, ia pernah menguasai perusahaan rekaman dalam bentuk piringan hitam atau pita kaset. Keemasannya juga selalu mengudara ketika radio mulai mengudara pada 1925 di Jawa. Tak pelak bila musik ini pernah menjadi hiburan musik paling utama bagi rakyat Indonesia.


Salah satu tokoh dan pelaku yang berkecimpung dalam perjalanan musik keroncong adalah Kusbini. Dia adalah sosok yang melakukan penyebaran musik keroncong melalui siaran radio di Surabaya di N.I.R.O.M. (Netherlandsch Indische Radio Omroep Maatschappy/1933-1939), C.I.R.V.O. (Chinesche Inheemsche Radioluisteraars Vereniging Oost Java). dan Jakarta (1942-1945) di radio Hosokanrikyoku. serta di Keimin Bunka Sidosho pada era penjajahan Jepang.

Dari tahun 1920-an hingga jaman pendudukan Jepang, Jakarta (dulu Batavia) selalu mengadakan Fadel Concours (Lomba grup keroncong) yang dikenal dengan sebutan Fadel Concours Pasar Gambir (sekarang Jakarta Fair) setiap tahun. Kemudian pada 1950-an, setelah selesai perang dan kondisi Jakarta aman, kegiatan keroncong dialihkan di Radio Republik Indonesia (RRI) dengan istilah "Bintang Radio", di Taman Ismail Marzuki diadakan lomba keroncong seperti pendahulunya Fandel Concour yang diadakan tiap dua tahun sekali. Selain di Jakarta, kota-kota lain seperti Yogyakarta, Semarang dan Surakarta mengalami perkembangan musik keroncong yang pesat. Orkes keroncong dari Yogyakarta, Surakarta dan Semarang banyak yang ikut dalam festival yang diadakan di Jakata.


Pada 1960-an, kelompok-kelompok musik keroncong terus berkembang di Solo. Salah satunya grup "OK Bintang" Surakarta yang dipimpin Waljinah Budi. Pada 1976, berdiri organisasi sebagai wadah untuk semua artis dan musisi keroncong yang bertujuan sosial dan memperhatikan perkembangan musik keroncong, yang disebut Himpunan Artis Musisi Keroncong Indonesia (HAMKRI).

Pada akhir abad ke-20 dan abad ke-21, keroncong mulai terhimpit musik-musik lain. Meski terlihat mati suri, usaha-usaha untuk menghidupkan kembali kejayaan musik keroncong ini tetap dilakukan. Hal itu terlihat ada keinginan di kalangan anak muda sekarang untuk kembali menghidupkannya, terutama di Jogja yang mulai terlihat ada peningkatan dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.


Selama empat tahun terakhir, ada sebuah pertunjukan musik keroncong tahunan yang bertema Simphony Kerontjong Moeda. Kegiatan ini membuat beberapa perkembangan di dalam musik keroncong, yaitu dengan memadukan beberapa lagu bergenre pop, jazz, hingga rock dengan keroncong. (dari berbagai sumber)

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan untuk anda tentang Musik Keroncong, Musik Perjuangan Yang Tersisihkan, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua.
Sarkomet berkata “Salam Satu Jiwa

8 komentar:

  1. Semakin berkembangnya jaman musik keroncong makin tergerus, anak muda sekarang bahkan hampir tidak mengenal aliran musik keroncong, sangat disayangkan sekali

    BalasHapus
  2. bener nih buktinya sekarang jarang ada media yang menyajikan acara musik kroncong. nanti kalau sudah diakuisisi negara lain baru deh gunjang ganjing :D

    BalasHapus
  3. saya tidak tahu banyak mengenai musik keroncong, mungkin sudah termakan jaman tapi ini yang perlu di lestarikan...

    BalasHapus
  4. terima kasih, untuk tugas presentasi seni budaya nih

    BalasHapus
  5. mantap... musik keroncong sangat populer di zamannya tapi sekarang jarang musisi - musisi yang menggunakan music keroncong padahal music keroncong alunan nadanya sangat indah untuk didengarkan.....

    BalasHapus
  6. semoga dengan adanya artikel ini, membuat pemuda pemudi Indonesia bergegas untuk menengok kembali kebudayaan bangsa, bukan hanya sebatas keroncong, tetapi semua yg dimiliki bangsa ini yg telah mulai ditinggalkan

    BalasHapus
  7. artikel ini membuat jiwa nasional kita muncul kembali untuk bisa menghargai musik negeri sendiri

    BalasHapus
  8. Coba band lain bisa ciptain musik kroncong kaya bondan prakoso.musiknya santai buat didenger.nice info min

    BalasHapus