Bacaan Terbaru

Kesetaraan Gender Di Indonesia


Istilah ataupun ungkapan “Kesetaraan Gender” sering kali digaungkan oleh para aktivis sosial, baik oleh kaum perempuan hingga para politikus Indonesia. Kesadaran kaum perempuan akan kesetaraan gender semakin meningkat, mereka terus menerus menuntut hak yang sama dengan laki-laki.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia menjelaskan bahwa gender adalah aspek hubungan sosial yang selalu dikaitkan dengan diferensiasi seksual pada manusia. Penggunaan kata “gender” berasal dari bahasa Inggris yang di dalam kamus tidak secara rinci dibedakan pengertian kata antara sex dan gender, untuk memahami konsep gender itu sendiri sangat perlu membedakan antara kata sex dan kata gender.

Istilah “Sex” adalah perbedaan jenis kelamin secara biologis sedangkan “Gender” adalah perbedaan jenis kelamin berdasarkan jenis konstruksi sosial atau jenis konstruksi masyarakat. Dalam kaitannya pengertian gender ini adalah sebuah ikatan hubungan antara laki-laki dan perempuan secara sosial. Hubungan sosial yang dimaksud disini adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam pergaulan hidup sehari-hari yang dibentuk dan dirubah.



Menurut definisi dari berbagai ahli istilah Kesetaraan gender adalah bentuk kesamaan kondisi baik itu laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh hak-haknya serta memperoleh kesempatan sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan bermasyarakat seperti memperoleh pendidikan, ekonomi, sosial budaya, politik, hukum, bahkan dalam kegiatan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), selain itu mendapatkan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut, kesetaraan gender juga meliputi penghapusan tindakan diskriminasi dan ketidak adilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi yang paling mendasar sebagai manusia. Hak untuk bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan serta hak untuk hidup secara terhormat, hak-hak tersebut tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, sebenarnya perempuan pun mempunyai hak yang sama pada hakikatnya.

Namun demikian sangat disayangkan sampai saat ini perempuan seringkali masih dianggap lemah dan hanya menjadi sosok pelengkap laki-laki saja. Terlebih lagi dengan adanya pola berpikir yang sampai saat ini masih banyak kita temui bahwa peran perempuan hanya sebatas bekerja di dapur, mencuci dan memasak, melayani suami serta mengurus keluarga dan anak-anak mereka, sehingga pada akhirnya hal di luar itu hak-hak perempuan menjadi tidak penting.


Sosok perempuan yang berprestasi dan bisa menyeimbangkan antara keluarga dan karir menjadi sangat jarang ditemukan, perempuan seringkali takut untuk berkarir karena tuntutan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Jika dilihat dari sejarahnya di setiap negara berkembang contohnya di Indonesia, yang menjadi faktor utama penyebab kesetaraan gendernya sendiri adalah tingkat kependudukan yang relatif tinggi sehingga minimnya kesempatan bagi perempuan untuk bisa ikut serta dalam suatu pemerintahan. sehingga para kaum perempuan hanya bisa merasakan hidup sebagaimana mestinya. Sebagian besar hanya bisa menjadi ibu rumah tangga ataupun menjadi pembantu rumah tangga, sedangkan hanya sebagian kecil yang bekerja di lapangan. 

Itu disebabkan oleh masyarakat di Indonesia Biasanya kurang disiplin dalam mematuhi hukum yang berlaku terkadang acuh tak acuh, serta pemerintahanya pun kurang tegas karena dari setiap kebijakannya tidak dijalankan berdasarkan prinsip akuntabilitas atau segala sesuatu yang dapat di pertanggung jawabkan oleh pemerintah, dan itu di nilai dari setiap pengambilan tindakan dan keputusan yang kurang transparan terhadap masyarakat.

Indonesia telah menetapkan berbagai Undang-Undang untuk melindungi perempuan dari kekerasan. Akan tetapi, terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah umum di Indonesia. Menurut survey Demografi dan Kesehatan 2013, hampir 25% perempuan yang pernah menikah menyetujui anggapan bahwa suami dibenarkan dalam memukul istrinya karena salah satu alasan berikut: istri berbeda pendapat, istri pergi tanpa memberitahu, istri mengabaikan anak, atau istri menolak untuk melakukan hubungan intim dengan suami.


Berbagai intervensi untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan sudah banyak dilakukan oleh pemerintah, lembaga donor, hingga organisasi sosial kemasyarakatan. Namun intervensi program lebih banyak difokuskan kepada perempuan dan belum banyak menyasar kepada kelompok yang kerap melakukan kekerasan dan perlu untuk dilibatkan lebih jauh yakni laki-laki.

Perdagangan perempuan dan prostitusi juga merupakan ancaman serius bagi perempuan Indonesia, terutama mereka yang miskin dan kurang berpendidikan. Meskipun pelecehan seksual dianggap kejahatan, akan tetapi hal itu umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2014 menemukan bahwa 90% perempuan mengaku telah mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual di tempat kerja.

Secara budaya banyak sekali anggapan-anggapan bahwa perempuan kurang layak untuk mempunyai suatu pekerjaan yang levelnya di atas pria, bukan karena melihat bahwa perempuan itu lemah, tapi coba saja lihat di setiap desa-desa perempuan lebih memilih mengurus anak dan suaminya ketimbang harus bekerja banting tulang, kebanyakan perempuan di desa mempertanggung jawabkan pekerjaan di luar kepada suaminya sedangkan mereka lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah dan bagi mereka semua itu sudah menjadi hal yang  biasa dan sudah menjadi tradisi kebudayaan. Jadi sangat sulit bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan kesetaraan gender di negaranya sendiri.


Seiring berjalannya waktu tingkat kesetaraan gender sudah sedikit meningkat jika di lihat dari banyaknya kaum perempuan yang ingin bekerja, walaupun hanya menjadi seorang buruh pabrik dengan penghasilan yang memang tidak setara dengan kaum prianya tetapi mereka tetap mempunyai penghasilan untuk menambahkan perekonomian dalam keluarganya. Dan itu bisa menjadi suatu dorongan terhadap perempuan-perempuan di Indonesia untuk mengetahui bagaimana pentingnya kesetaraan gender itu. Tapi dalam hal ini yang sangat di sayangkan bahwa banyak terjadinya tindakan-tindakan pelecehan seksual yang tejadi terhadap perempuan-perempuan di Indonesia. Jadi jika dilihat seperti itu maka derajat perempuan memang naik tetapi harga diri perempuan menjadi yang sangat di perhitungkan.

Untuk meningkatkan kesadaran perempuan akan isu kesetaraan gender ini dan mengedukasi pekerja perempuan mengenai hak-haknya sebagai pekerja perempuan, program kampanye Labour Rights For Women yang ditujukan bagi pekerja perempuan muda tidak ada henti-hentinya menyuarakan dan mengedukasi perempuan. Lewat event dan pelatihan Labour Rights For Women yang bertema “Gender Equality”, perempuan diharapkan dapat lebih terpacu untuk membela hak mereka dalam kesempatan kerja/karir, hak maternal dan keseimbangan antara keluarga dan karir.


Kesetaraan gender tidak harus dipandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan selanjutnya. Malu rasanya apabila perempuan berteriak mengenai isu kesetaraan gender apabila kita artikan segala sesuatunya harus mutlak sama dengan laki-laki. Karena pada dasarnya, perempuan tentunya tidak akan siap jika harus menanggung beban berat yang biasa ditanggung oleh laki-laki. Atau sebaliknya laki-laki pun tidak akan bisa menyelesaikan semua tugas rutin rumah tangga yang biasa dikerjakan perempuan.

Di jaman modern dan semakin canggih saat ini sebenarnya Kesetaraan gender dapat memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. 


Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (perempuan dan laki-laki) untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka. (dari berbagai sumber)
Demikian informasi yang dapat saya sampaikan untuk anda tentang “Kesetaraan Gender Di Indonesia”, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua.

Sarkomet berkata “Salam Satu Jiwa

Tidak ada komentar