Bacaan Terbaru

Pentingnya Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Kementerian Ketenagakerjaan RI
Angka kecelakaan kerja di Indonesia masih terbilang cukup tinggi dibandingkan negara tetangga. Dari jumlah kasus, data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan akhir tahun 2015 menunjukkan jumlah kecelakaan kerja sebanyak 105.182 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 2.375 orang. Penyebab kecelakaan kerja antara lain karena masih rendahnya kesadaran mengenai arti penting Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) di kalangan industri dan masyarakat.
Selama ini penerapan K3 sering dianggap sebagai beban biaya, bukan sebagai investasi untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Padahal, pekerja berperan sangat penting bagi keberlangsungan sebuah perusahaan, sehubungan dengan itu sudah sepatutnya perusahaan memberi perhatian lebih terhadap kondisi pekerja dan berusaha secara maksimal guna mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan kerja.
Kualitas pekerja mempunyai korelasi yang erat dengan kecelakaan kerja, sedangkan kecelakaan kerja erat kaitannya dengan produktivitas sehingga program K3 sangat mempengaruhi program pengembangan sumber daya manusia. Apabila K3 terlaksana dengan baik, kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat ditekan. Imbasnya biaya-biaya yang tidak perlu akibat adanya kasus-kasus tersebut dapat dihindari sehingga tercapai suasana kerja yang aman, nyaman, sehat dan tercipta produktivitasnya. Peningkatan produktivitas kerja dan usaha ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara nasional.
Namun masih adanya anggapan sebagai beban biaya, menjadikan pelaksanan dan pengawasan K3 pun tak berlangsung secara maksimal. Padahal, soal keselamatan kerja sudah diamanatkan sejak 46 tahun silam yaitu dengan adanya UU Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan-kecelakaan kerja yang terjadi dalam proses konstruksi dapat menghambat proses konstruksi itu sendiri sehingga tujuan manajemen proyek tidak tercapai seperti penambahan pembiayaan yang tidak perlu akibat terjadinya kecelakaan kerja dan dari segi waktu akan memperlambat proses pelaksanaan konstruksi sehingga kinerja kontraktor mengalami penurunan dan hambatan. Hal inilah yang menjadi pertimbangan bagi perusahaan-perusahaan kontraktor dalam menerapkan sistem manajemen K3 yang baik dalam proses konstruksi yang merupakan kunci utama bagi tercapainya tujuan manajemen proyek yang sukses dan keamanan terhadap tenaga kerja.
Kompleksitas dalam pelaksanaan proyek konstruksi yang melibatkan tenaga kerja, peralatan-peralatan, dan material dalam jumlah yang sangat besar, baik bekerja secara sendiri-sendiri atau bersama-sama antara sumber daya-sumber daya tersebut dapat menjadi sumber terjadinya kecelakaan kerja. Masih banyak pelaksanaan proyek konstruksi yang tidak melengkapi proyeknya dengan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja yang baik, padahal pelaksanaan proyek konstruksi dapat menimbulkan resiko kecelakaan kerja yang sangat tinggi.
Mengetahui faktor-faktor dominan penerapan program K3 yang berpengaruh terhadap kinerja kontraktor pada pelaksanaan proyek konstruksi sangat penting. diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang berguna untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijaksanaan pihak kontraktor sebagai pelaksana terhadap penerapan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Tantangan Dan Peluang
Guna mendorong terwujudnya perlindungan K3 yang efektif dan efisien, upaya yang paling tepat dalam menerapkan K3 adalah sebuah sistem. Yaitu sistem manajemen K3 (SMK3) sebagaimana diamanatkan Pasal 87 UU Nomor 13 Tahun 2003 yang diatur dalam pedoman penerapan SMK3 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012. SMK3 merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja, guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Selain itu telah di keluarkan juga PERMENAKER No. 05/MEN/1990 tentang Penerapan SMK3 dan audit SMK3. Sejalan dengan itu PP No.50 Tahun 2012 pasal 5 ayat 1 tentang SMK3 (Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja) yang menerangkan bahwa setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 di perusahaannya. SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi :
·   Struktur organisasi;
·   Perencanaan;
·   Tanggung jawab;
·   Pelaksanaan, prosedur;
·   Proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produkfif.
Sebagian besar perusahaan, dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan cara terus di tingkatkan dalam pelaksanaanya, sebagai sebuah jaminan bahwa penerapan yang di lakukan berkontribusi terhadap perkembangan ataupun kemajuan perusahaan dan dapat memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan yang bisa terjadi pada pekerja atau dengan kata lain dapat menjamin keselamatan dan kesehatan para pekerja.
Dalam penerapan dan Pengelola K3 sebagaimana tersebut dalam PP No.50 Tahun 2012 pasal 11 ayat 2 harus melakukan kegiatan meliputi:
·   Tindakan pencegahan;
·   Perancangan (design) dan rekayasa;
·   Prosedur dan instruksi kerja;
·   Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan (pengawasan);
·   Pembelian atau pengadaan barang dan jasa;
·   Produk akhir;
·   Upaya menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana;
·   Rencana dan pemulihan keadaan darurat.
 
Ada perkembangan lain yang perlu dicermati oleh semua pihak, yaitu adanya persyaratan baru yang diterapkan oleh negaara pengimpor terutama negara maju, terhadap suatu produk barang atau jasa. Persyaratan itu, selain mengenai mutu yang baik, aman dipergunakan, dan ramah lingkungan juga harus memenuhi standar internasional. Diantaranya sistem manajemen mutu, sistem manajemen lingkungan, dan sistem manajemen K3. Kondisi tersebut harus dijadikan sebagai tantangan sekaligus peluang dalam meraih keberhasilan perdagangan bebas dan meningkatkan daya saing.
Pada hakekatnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu keilmuan multidisiplin yang menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja, keamanan kerja, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja serta melindungi tenaga kerja terhadap resiko bahaya dalam melakukan pekerjaan serta mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, peledakan atau pencemaran lingkungan kerja.
Demikian informasi yang dapat saya sampaikan untuk anda tentang Pentingnya Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua. 
Sarkomet berkata “Salam Metal”.

Tidak ada komentar