Bacaan Terbaru

Pemanfaatan Iptek Nuklir Di Bidang Energi


Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
Energi Nuklir menghadirkan solusi bagi kebutuhan energi dalam jumlah masif dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Saat ini nuklir telah berkontribusi sebesar 16% kebutuhan listrik dunia, selain itu manfaatnya juga sangat luas diberbagai bidang lainnya. 

Kendala utama pemanfaatan energi nuklir adalah penerimaan masyarakat. Masyarakat Indonesia khususnya, masih terjebak pada fobia nuklir akibat kejadian dimasa lalu. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), sebagai instansi yang melaksanakan aktivitas ketenaganukliran, perlu melakukan sosialisasi untuk meningkatkan public acceptance dan partisipasi dalam penggunaan PLTN untuk mengatasi krisis energi di Indonesia. 

Kecelakaan Nuklir Chernobyl

Kekhawatiran masyarakat pada nuklir tidak lepas dari kejadian dimasa lalu dan ketidaktahuan akan manfaatnya. Selain itu kecelakaan nuklir di Chernobyl dan Fukushima menambah panjang daftar keengganan masyarakat untuk menerimanya. Padahal aplikasi iptek nuklir bidang yang lain telah banyak dimanfaatkan diberbagai bidang kehidupan. Penerimaan masyarakat menjadi salah satu aspek pertimbangan pemerintah dalam akselerasi pembangunan PLTN. 

Oleh sebab itu perlu dikembangkan suatu strategi sosialisasi yang dapat mengedukasi dan memberikan informasi kepada masyarakat untuk menghapus kekhawatiran mereka selama ini, yang pada akhirnya akan berwujud partisipasi dalam pemanfaatan nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik. Namun kendala sesungguhnya adalah bagaimana memberikan kemasan informasi yang efektif dan sesuai dengan segmen masyarakat, sehingga dapat mendorong mereka untuk mengakses berita yang benar dan berimbang mengenai iptek nuklir

Posisi energi nuklir saat ini berada dalam Visi Energi 25/25, dimana nuklir sebagai salah satu klaster energi baru nasional bersama Energi Baru Terbarukan (EBT) lainnya. Kebijakan ini merupakan bentuk usaha pemerintah untuk mengurangi beban sumber energi fosil serta pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 25% pada tahun 2025, yang merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam pertemuan G-20 di Pittsburgh tahun 2009. 

Berangkat dari kebijakan inilah BATAN akan terus berupaya mensosialisasikan manfaat PLTN kepada masyarakat agar masyarakat paham dan pada akhirnya tutut berperan aktif dalam pemanfaatan energi nuklir.

Sosialisasi yang akan disampaikan merupakan aplikasi iptek nuklir di segala bidang kegiatan litbangyasa iptek nuklir, baik berupa kebijakan maupun pemanfaatan hasil-hasil litbangyasa iptek nuklir. Sampai saat ini, BATAN telah banyak menghasilkan berbagai hasil-hasil litbangyasa iptek nuklir yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Tema advetorial juga dapat mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan pemanfaatan iptek nulir di bidang energi, khususnya dalam mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.

Cara kerja PLTN :

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah Pusat pembangkit listrik yang menggunakan reaksi atom sebagai sumber energi pembangkitan listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN merupakan salah satu bentuk sumber energi yang menuai banyak kontroversi. Pembangkit Nuklir adalah jenis pembangkit thermal yang dimana sumber panasnya adalah dari reaktor nuklir. Sama seperti tipe pembangkit thermal lainnya, panas ini digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang kemudian memutar generator. Dilaporkan oleh IAEA per April 2014 ada sekitar 435 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang beroperasi di 31 negara di dunia.

Cara kerja PLTN hampir mirip dengan cara kerja pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar fosil lainnya. Jika PLTU menggunakan boiler untuk menghasilkan energi panasnya, PLTN menggantinya dengan menggunakan reaktor nuklir. Pada PLTN juga memiliki prinsip kerja yang sama yaitu di dalam reaktor terjadi reaksi fisi bahan bakar uranium sehingga menghasilkan energi panas, kemudian air di dalam reaktor dididihkan, energi kinetik uap air yang didapat digunakan untuk memutar turbin sehingga menghasilkan listrik untuk diteruskan ke jaringan transmisi.

Cara Kerja PLTN

Secara ringkas dan sederhana, rancangan PLTN terdiri dari air mendidih, boild water reactor bisa mewakili PLTN pada umumnya, yakni setelah ada reaksi nuklir fisi, secara bertubi-tubi, di dalam reaktor, maka timbul panas atau tenaga lalu dialirkanlah air di dalamnya. Kemudian uap panas masuk ke turbin dan turbin berputar poros turbin dihubungkan dengan generator yang menghasilkan listrik. 
PLTN beroperasi dengan prinsip yang sama seperti Pembangkit Listrik Konvensional (PLK), hanya panas yang digunakan untuk menghasilkan uap tidak dihasilkan dari pembakaran bahan fosil, tetapi dihasilkan dari reaksi pembelahan inti bahan fisil (Uranium) di dalam suatu reaktor nuklir. Tenaga panas tersebut digunakan untuk membangkitkan uap di dalam sistem pembangkit uap (Steam Generator) dan selanjutnya sama seperti pada PLK, uap digunakan untuk menggerakkan turbin, turbin menggerakkan generator, dan generator menghasilkan listrik. 

Sebagai pemindah panas biasa digunakan air yang disirkulasikan secara terus menerus selama PLTN beroperasi. Proses pembangkitan listrik ini tidak membebaskan asap atau debu yang mengandung logam berat yang dibuang ke lingkungan atau melepaskan partikel yang berbahaya seperti CO2, SO2, NOx ke lingkungan, sehingga PLTN ini merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Limbah radioaktif yang dihasilkan dari pengoperasian PLTN adalah berupa elemen bakar bekas dalam bentuk padat. Elemen bakar bekas ini untuk sementara bisa disimpan di lokasi PLTN sebelum dilakukan penyimpanan limbah secara lestari.

Sistem Pengaman PLTN

PLTN mempunyai sistem pengamanan yang ketat dam berlapis-lapis, sehingga kemungkinan terjadi kecelakaan maupun akibat yang ditimbulkan sangat kecil, Sebagai contoh, zat radioaktif yang dihasilkan selama reaksi pembelahan inti uranium sebagian besar (> 99%) akan tetap tersimpan di dalam matriks bahan bakar, yang berfungsi sebagai penghalang pertama, selama beroperasi aupun jika terjadi kecelakaan, kelongsong bahan bakar akan berperan sebagai penghalang kedua untuk mencegah terlepasnya zat radioaktif tersebut keluar kelongsong. 

Dalam hal zat radioaktif masih dapat keluar dari dalam kelongsong, masih ada penghalang ketiga yaitu sstem pendingin. Lepas dari sistem pendingin, masih ada penghalang keempat berupa bejana tekan dibuat dari baja dengan tebal ± 20 cm. Penghalang kelima adalah perisai beton dengan tebal 1,5 - 2 meter.

Bila zat radioaktif itu masih ada yang lolos dari perisai beton, masih ada penghalang keenam, yaitu sistem pengungkung yang terdiri dari pelat baja setebal ± 7 cm dan beton setebal 1,5 - 2 meter yang kedap udara. Jadi selama operasi atau jika terjadi kecelakaan, zat radioaktif benar-benar tersimpan dalam reaktor dan tidak dilepaskan ke lingkungan. Kalaupun masih ada zat radioaktif yang terlepas jumlahnya sudah sangat diperkecil sehingga dampaknya terhadap lingkungan tidak berarti.


Dibandingkan pembangkit listrik lainnya, PLTN mempunyai faktor keselamatan yang lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh studi banding kecelakaan yang pernah terjadi di semua pembangkit listrik. Secara statistik, kecelakaan pada PLTN mempunyai persentase yang jauh lebih rendah dibandingkan yang terjadi pada pembangkit listrik lain. Hal tersebut disebabkan karena dalam desain PLTN, salah satu filosofi yang harus dipunyai adalah adanya “pertahanan berlapis” (defence in-depth). 

Dengan kata lain, dalam PLTN terdapat banyak pertahanan berlapis untuk menjamin keselamatan manusia dan lingkungan. Jika suatu sistem operasi mengalami kegagalan, maka masih ada sistem cadangan yang akan menggantikannya. Pada umumnya, sistem cadangan berupa suatu sistem otomatis pasif. Disamping itu, setiap komponen yang digunakan dalam instalasi PLTN telah didesain agar aman pada saat mengalami kegagalan, sehingga walaupun komponen tersebut mengalami kegagalan, maka kegagalan tersebut tidak akan mengakibatkan bahaya bagi manusia dan lingkungannya.

Dari sisi sumber daya manusia, personil yang mengoperasikan PLTN harus memenuhi persyaratan yang sangat ketat, dan wajib mempunyai sertifikat sebagai operator reaktor yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Untuk mendapatkan sertifikat tersebut, mereka harus mengikuti dan lulus ujian pelatihan. Sertifikat tersebut berlaku untuk jangka waktu tertentu dan setelah lewat masa berlakunya maka akan dilakukan pengujian kembali.

Di masa mendatang, pemakaian energi nuklir akan berkembang lebih maju lagi, tidak hanya sekedar untuk pembangkit listrik saja, tetapi juga untuk keperluan energi selain kelistrikan, seperti produksi hidrogen, desalinasi air laut, dan pemanas ruangan.

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan untuk anda tentang "Pemanfaatan Iptek Nuklir Di Bidang Energi", semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua.
Sarkomet berkata “Salam Satu Jiwa”.

4 komentar:

  1. inilah solusi yang dibutuhkan indonesia untuk menanggapi maslah mendatang dari pada bangun banyak pembangit yang berdaya kecil dalam jumlah banyak yang membutuhkan banyak anggaran dan masalah - masalah lain

    BalasHapus
  2. Wah, tapi sih kalo bocor itu loh gan.. ngeri banget deh dampaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg penting pltn itu pada pengelolaanya dan pembangunanya harus diarea yg steril mnrt ane CMiiw

      Hapus