Bacaan Terbaru

Meningkatkan Citra Positif Investasi Di Indonesia

Badan Koordinasi Penanaman Modal - BKPM
Badan Koordinasi Penanaman Modal adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang bertugas untuk merumuskan kebijakan pemerintah di bidang penanaman modal, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Badan ini didirikan sejak tahun 1973, menggantikan fungsi yang dijalankan oleh Panitia Teknis Penanaman Modal yang dibentuk sebelumnya pada tahun 1968.

Dengan ditetapkannya Undang-Undang tentang Penanaman Modal pada tahun 2007, BKPM menjadi sebuah lembaga Pemerintah yang menjadi koordinator kebijakan penanaman modal, baik koordinasi antar instansi pemerintah, pemerintah dengan Bank Indonesia, serta pemerintah dengan pemerintah daerah maupun pemerintah daerah dengan pemerintah daerah. BKPM juga diamanatkan sebagai badan advokasi bagi para investor, misalnya menjamin tidak adanya ekonomi biaya tinggi.
Indonesia merupakan negara tujuan investasi yang menarik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan rata-rata 6% pertahun memperlihatkan performa ekonomi Indonesia yang tergolong baik. Indonesia bahkan merupakan salah satu dari sedikit negara yang pulih lebih cepat dan mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi, ketika sebagian besar negara di dunia justru mengalami resesi akibat krisis keuangan global (Global Financial Crisis / GFC) yang bermula di Amerika Serikat pada tahun 2008.
Besarnya peluang arus modal termasuk penanaman modal asing (PMA) dipicu oleh pemulihan yang lambat dari GFC, prospek pertumbuhan ekonomi yang melambat dan meningkatnya angka pengangguran sehingga negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris berusaha menstimulasi pertumbuhan ekonominya dengan menurunkan tingkat suku bunga hingga ke level mendekati 0% serta meningkatkan jumlah uang yang beredar dengan menerapkan kebijakan quantitative easing (QE). Akibatnya para investor di negara-negara maju tersebut lebih berani untuk mendiversifikasi investasinya ke luar negeri termasuk ke Indonesia. 
PMA sebagai mesin pertumbuhan ekonomi untuk membuka lapangan pekerjaan serta menurunkan angka kemiskinan adalah komponen utama dari strategi 3 jalur  “Pro-growth, Pro-job dan Pro-poor”. Berdasarkan realisasi PMA, sejak tahun 2005 hingga 2010 minat investor asing menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, dari USD 8,91 triliun (2005), USD 10,34 triliun (2007), dan USD 10,82 triliun sebelum meningkat hampir dua kali lipat menjadi USD 16,21 triliun di akhir tahun 2010.
Peluang aliran PMA serta prospek pertumbuhan ekonomi dalam 2 tahun ke depan merupakan suatu prestasi yang sangat membanggakan bagi Indonesia. Namun keberhasilan ini tidak seharusnya membuat berbagai pihak terlena, momentum pertumbuhan ekonomi tersebut harus terus dipertahankan. 
Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan kebijakan standar bussiness as usual. Untuk lebih meningkatkan investasi, pemerintah melakukan upaya-upaya perbaikan strategis dalam meningkatkan minat investor agar tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Bank dunia menyebutkan kelemahan investasi di negara berkembang seperti Indonesia salah satunya adalah infrastruktur yang buruk dan ketidakpastian hukum. Hal ini menjadi bagian yang harus dieliminir oleh pemerintah melalui penyebaran informasi sambil terus melakukan perbaikan ke arah substansi. Publik perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah dalam percepatan pemulihan iklim investasi. Pada situasi ini dukungan publikasi sangatlah diperlukan untuk mengeliminir citra negatif dan meningkatkan citra positif investasi di Indonesia.
Demikian informasi yang dapat saya sampaikan untuk anda tentang Meningkatkan Citra Positif Investasi Di Indonesia, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua.

Sarkomet berkata “Salam Metal”.

Tidak ada komentar