Bacaan Terbaru

Cara Bijak Mengatasi Sampah

“Kebersihan Itu Sebagian Dari Iman” {HR Muslim}
Kebersihan seharusnya bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan yang merupakan tanggung jawab bersama dan harus dijadikan sebagai budaya hidup sehari-hari.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengelola sampah kota jumlah sampah meningkat 25%, sebagian besar berupa sampah organik. Secara numerik, jumlah sampah yang dihasilkan rumah tangga di perkotaan lebih besar dibandingkan dengan di perdesaan. Salah satu indikasinya adalah komposisi sampah kota cukup besar berupa plastik sebagai kemasan. Persoalan sampah sebagai bagian dari gaya hidup harus didasarkan pada kesadaran bahwa dirinya sendirilah yang menjadi sumber persoalan.
Untuk memahami persoalan pengelolaan sampah sebagai pengelolaan tata nilai, perlu kiranya menengok kembali bagaimana masyarakat tradisional mengelola sampah secara bijak. Masyarakat tradisional yang hidupnya menyatu dan mengikuti ritme alam tidak memiliki problematika sampah yang berarti. Mereka menggunakan bahan-bahan yang mudah membusuk untuk membungkus makanan dan bahan-bahan tersebut akan menjadi pupuk yang menyuburkan alam sekitarnya. Bukan hanya volume sampah mereka yang relatif sedikit, namun sampah yang mereka produksi mudah diuraikan oleh alam dan alam mencernanya.
Seiring dengan mengejalanya modernitas kehidupan, produk industri semakin banyak diproduksi dan dikonsumsi serta semakin banyak pula sampah yang harus dibuang ke alam. Sebagai contoh, masyarakat modern yang gaya hidupnya memiliki mobilitas tinggi, dimanjakan dengan makanan yang terkemas dan terawetkan serta difasilitasi oleh penyediaan barang-barang yang disposable atau sekali pakai langsung buang.
Tips Pilah Sampah

Pola penerapan pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycling) dan berbasis masyarakat terutama keluarga dimulai sejak dari sumber. Pemilahan sampah mempunyai peranan penting didalam program pelaksanaan 3R dan perlu dibudayakan sejak saat ini. Membiasakan hidup teratur dan bersepakat bersama keluarga sehingga keluarga telah terbiasa mengelola sampahnya secara bijak.

Cara jitu yang bisa dilakukan adalah menyediakan tempat penampungan sementara yakni dengan penempatan tempat sampah yang diberi sekat antara sampah organik (sampah basah) dan anorganik (sampah kering). Sejalan dengan itu, maka kita akan dapat pula menekan sampah rumah tangga yang akan diproduksi.

Yang paling sederhana dan praktis adalah menggunakan kantong plastik, sediakan dua kantong untuk memilah antara sampah basah dan kering. Semaksimal mungkin menggunakan kemasan-kemasan makanan dari bahan organik (daun, kertas) yang mudah diuraikan misalnya menyiapkan makanan yang dikemas dengan daun (seperti nasi timbel) atau ditempatkan pada wadah yang tidak sekali pakai dan tidak berlebihan agar tidak menjadi sampah.

Pemanfaatan dan Pengolahan Sampah


Pengelolaan sampah juga harus dilakukan secara preventif mulai dari sumbernya yakni dari pembuat kemasan. Para produsen diharapkan mampu meminimalkan sampah yang diproduksi dengan cara pengemasan barang dan jasa yang dijual, salah satunya dengan skema refill. Penghematan sampah justru bisa dianggap sebagai bagian dari strategi efisiensi dan hal ini membuat produk mereka memiliki daya saing yang lebih kuat.

Cara tradisional yang digunakan oleh orang tua kita ketika ke pasar bisa dipergunakan lagi (membawa keranjang) belanja ke pasar. Menyiapkan makanan dengan pembungkus yang tidak berlebihan dengan bahan yang mudah terurai (daun, kertas) dapat mengurangi jumlah sampah pembungkus dari plastik. Atau menggunakan saputangan berarti mengurangi konsumsi kertas tisu dan berarti menghemat penebangan pohon.


Penggunaan kembali sampah tanpa suatu proses pengolahan sebagai contoh memanfaatkan kembali ember bocor, botol-botol bekas minuman untuk pot-pot tanaman atau membuat kompos dari sampah organik dapur, dan banyak contoh lainnya yang dapat dilakukan. Salah satu contoh pemanfaatan kembali sampah organik dapur adalah dengan menjadikannya kompos melalui proses pembusukan dengan bantuan mikroorganisme yang ada didalam sampah itu sendiri maupun bantuan tambahan mikroorganisme.

Langkah ini dapat dilaksanakan di rumah tangga atau sumber-sumber sampah dengan menggunakan komposter rumah tangga baik skala individual maupun komunal. Untuk sampah anorganik lainnya dapat kita kumpulkan dan diberikan kepada para pemulung sampah yang setiap hari berkeliling yang selanjutnya akan diproses kembali menjadi barang-barang jadi maupun barang setengah jadi.

Meski demikian, himbauan moral saja tidak banyak berarti tanpa sebuah gerakan yang dimulai dari rumah kita masing-masing dengan menerapkan 3R yaitu Reuse, Reduce dan Recycling. Jika menyangkut kesejahteraan masyarakat, pemikiran etis saja tidak akan berarti apa-apa tanpa didukung oleh aturan hukum yang dapat menjamin pelaksanaan dan menindak pelanggarannya.

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan untuk anda tentang Cara Bijak Mengatasi Sampah, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua.
Sarkomet berkata “Salam Metal”.

Tidak ada komentar